VDO Masterclass pertama Cipta Dental Academy berjalan 12–13 September 2026 di Jl. Kapuas No. 14, Surabaya. Selama dua hari kami membahas dua hal: di mana seharusnya gigitan pasien, dan bagaimana membawanya ke sana dengan aman.
Hari pertama berisi langkah yang masih reversible: foto, pengambilan CR, jig, dan splint. Hari kedua baru masuk ke langkah irreversible: penyesuaian oklusal, VDO, dan verifikasi dengan Modjaw.
Empat pelajaran utama
1. Tentukan dulu: kasus daily atau reconstructive
Kasus satu gigi bisa dikerjakan dengan hampir semua opsi, dan kalau salah pilih risikonya kecil. Kalau rencananya menyentuh banyak gigi sekaligus, semua kontak awal hilang bersamaan. Gigitan barunya harus dirancang dari awal supaya stabil. Kalau tidak, restorasinya akan terus diperbaiki satu per satu.
2. Baca gigitan dalam urutan yang sama: P1, P2, lalu P3
Posisi sendi dulu, lalu posisi cusp terhadap fossa lawan, baru jalur kunyah. Urutan yang sama dipakai lagi saat mengerjakan: stabilkan sendi, stabilkan oklusi posterior, baru verifikasi dengan gerakan mengunyah sungguhan.
3. Splint adalah test-drive
Splint mengubah VDO dan posisi sendi tanpa mengasah satu gigi pun. Kalau pasien nyaman di posisi baru, baru keputusan permanen diambil.
4. Rekaman digital tidak memperbaiki gigitan yang salah
Modjaw merekam dengan presisi, termasuk gigitan yang belum dikoreksi. Jadi koreksi dulu, baru rekam. Kalau urutannya dibalik, yang terekam dengan presisi adalah gigitan yang salah.
Di meja kerja: dari deprogrammer sampai Modjaw
Sebagian besar waktu dipakai untuk praktik di meja. Urutannya mengikuti urutan kerja di klinik, mulai dari memilih kasus.
Case selection: langsung kerjakan, deprogram dulu, atau splint dulu?
Tidak semua pasien perlu deprogrammer atau splint. Sebelum memilih alat, ada empat pertanyaan yang dijawab berurutan:
- Daily atau reconstructive? Satu-dua gigi yang tidak mengubah kontak gigitan berbeda dengan rencana yang menyentuh banyak gigi sekaligus.
- Sendinya siap dibebani? Load test dulu. Sendi yang sehat tidak nyeri saat ditekan.
- Ototnya cepat lepas atau butuh waktu? Ada pasien yang cukup 5–10 menit, ada yang perlu beberapa minggu.
- VDO atau posisi sendi akan diubah? Kalau ya, rencananya diuji dulu sebelum gigi diasah.
| Kondisi pasien | Langkah pertama |
|---|---|
| Satu-dua gigi, gigitan stabil, tanpa keluhan sendi/otot, kontak gigitan tidak berubah | Langsung dikerjakan di gigitan pasien sekarang |
| Banyak gigi dikerjakan, sendi lolos load test, gigitan konsisten | Deprogram di kursi 5–10 menit (leaf gauge/jig), rekam CR, lalu lanjut |
| Gigitan berpindah-pindah, otot cepat lelah atau nyeri kronis | Deprogrammer dipakai di rumah 2–4 minggu sampai titik kontaknya konsisten |
| VDO atau posisi sendi akan diubah | Splint dulu sebagai test-drive |
| Nyeri di sendi saat load test, riwayat trauma, atau clicking yang tiba-tiba berhenti | Jangan mulai dengan deprogrammer. Tangani sendinya dulu (splint rata) atau rujuk |
Batas tiap kondisi, cara load test, dan cara membaca titik kontaknya dibahas dan dipraktikkan di kelas.
Deprogrammer: lepaskan dulu gigitan kebiasaan
Otot pengunyah terbiasa menuntun rahang ke gigitan yang paling sering dipakai, padahal posisi itu belum tentu yang paling stabil untuk sendi. Leaf gauge, Kois deprogrammer, atau jig dipakai sampai "ingatan" otot itu lepas, lalu gigitan dicatat di posisi sendi (CR). Catatan gigitan inilah yang dipakai untuk memasang model di artikulator.
Splint: menguji posisi baru tanpa mengasah gigi
Splint dibuat di VDO dan posisi sendi yang direncanakan, lalu disesuaikan sampai kontaknya merata dan gerakan ke depan serta ke samping dituntun dengan halus. Peserta menyesuaikan splint sendiri.
Penyesuaian oklusal di artikulator, mengikuti gigitan hasil deprogram

Model dipasang di artikulator dengan gigitan hasil deprogram. Saat artikulator ditutup, biasanya hanya satu-dua titik yang bertemu lebih dulu. Titik itulah yang membuat rahang tergelincir ke gigitan kebiasaan. Titik itu ditandai dengan kertas artikulasi, dikurangi sedikit, lalu artikulator ditutup dan ditandai lagi. Ini diulang sampai kontak tersebar merata di gigi posterior. Prinsip BULL dipakai untuk memilih cusp mana yang boleh dikurangi.

Latihannya di model dulu karena pengurangan di gigi asli tidak bisa dikembalikan. Di model, peserta melihat sendiri berapa banyak yang sebenarnya perlu dikurangi sebelum menyentuh gigi pasien.


Modjaw: melihat oklusi dan VDO saat rahang bergerak

Artikulator meniru gerakan rahang; Modjaw merekam gerakan yang sebenarnya. Hasil scan gigi dihubungkan dengan penanda di kepala dan rahang relawan, lalu relawan membuka, menutup, mengunyah, dan menggeser rahang. Di layar terlihat apakah kontak yang sudah diratakan tetap bersih saat rahang bergerak, dan bagaimana rahang bergerak di VDO yang baru.
Satu relawan untuk seluruh alur
Banyak demo dilakukan pada relawan yang sama. Peserta melihat satu pasien melewati seluruh alur: difoto, diambil CR-nya, dipasang splint, sampai rahangnya bergerak di layar.
Berikutnya
Peserta VDO Masterclass mendapat akses ke Panduan VDO Masterclass untuk belajar ulang. Jadwal kelas berikutnya ada di halaman acara.